Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal

Sabtu, 23 Februari 20130 komentar


Kekayaan laut anugerah Tuhan
Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham karakter lokal adalah kuci keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia. Kenapa tema Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal ini menjadi penting, karena setelah sekian lama program revolusi biru dan minapolitan yang dicanangkan belum mencapai tahapan target seperti yang diharapkan oleh masyarakat, terutama masyarakat kelompok pesisir dan kepulauan kecil yang seharusnya paling merasakan manfaat dari program revolusi biru dan minapolitan.

program revolusi biru dan minapolitan lahir dari pembelajaran tentang karakter bangsa, sehingga Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal sangat relevan dan menjadi mata rantai pemahaman dasar yang melandasi strategi dan kebijakan program revolusi biru dan minapolitan yang giat di canangkan pemerintah baru – baru ini.

Tema Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal berangkat dari kenyataan bahwa sekian lama bangsa ini mengadopsi sukses pembangunan dan modernisasi ala bangsa-bangsa kontinental. Sekian lama juga khazanah laut kita “terbiar” dan memberi manfaat luar biasa justru untuk bangsa lain. Sekian lama juga, hingga hari ini Nelayan bersanding dengan petani sebagai kelompok mayoritas paling marjinal yang menikmati hasil lezat kue pembangunan.

Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal adalah kelanjutan dari upaya reorientasi konsep pembangunan nasional dari fokus daratan ke fokus kelautan. Banyak pelajaran penting dari  kegagalan konsep pembangunan fokus daratan yang jangan sampai terulang dalam implementasi program Revolusi Biru dan minapolitan kali ini. Salah satunya adalah perlunya peningkatan kapasitas kreatif pemerintah pusat dalam memberikan anggaran berbasis program kepada otoritas daerah.

Tulisan Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal ini berangkat dari pengalaman saya sebagai konsultan percepatan pembangunan di satu kabupaten kepulauan. Bupati meminta saya untuk menyusun sebuah proposal permohonan anggaran untuk pengembangan rumput laut yang memang sudah ada pos nya sebagai bagian dari program revolusi biru dan minapolitan pemerintah pusat sebesar 28 Milyar. 

Tentu saja, proposal harus se visible mungkin dan berdasarkan observasi dan data yang mendukung. Alhasil, ketika melakukan observasi, saya menemukan fakta baru yang menarik bahwa yang lebih penting untuk diajukan ke pusat sebagai bagian dari program revolusi biru dan minapolitan kabupaten kepulauan tersebut bukanlah pengembangan rumput laut.

Melihat potensi dasar keunikan karakter lokal, saya akhirnya membuat dua proposal program revolusi biru dan minapolitan berbasis wilayah, yang pertama tetap rumput laut, yang kedua adalah pembangunan infrastruktur Fishery Industry berbasis koperasi. Yang pertama tetap 28 Milyar, yang ke dua hanya 10 Milyar. Yang pertama berdasarkan rencana strategis pemerintah daerah yang kedua berdasarkan pengamatan dan pendekatan strategic business plan.

Dasar dari proposal pembangunan fishery industri berbasis koperasi ini sebenarnya sederhana saja. Hasil dari pengamatan, saya melihat dengan gamblang potensi bidang Perikanan dan peluang bisnis yang sangat besar.

Kabupaten Kepulauan tersebut mempunyai potensi perikanan yang luar biasa besar. Letak geografis yang berada di wilayah khatulistiwa dengan susunan kepulauan yang kaya akan berbagai endemen organik laut dengan nilai ekonomi yang tinggi. Perairannya juga kaya akan plangton dan ikan ikan kecil yang menjadi lumbung makanan bagi ikan ikan besar seperti Tuna, Hiu dan ikan Layar yang bermigrasi dari laut pasifik ke laut New Zealand, sehingga banyak perusahaan ikan raksasa dari Jepang, Taiwan dan Filipina melakukan Ilegal Fishing di perairan tersebut dengan nilai sebesar 8 Trilyun rupiah pertahunnya. Bandingkan dengan pendapatan daerah yang hanya 100 Milyar pertahun.

Kelemahan infrastruktur, modal, procurement, teknologi distribusi dan akses pasar menyebabkan potensi yang besar tersebut menjadi mubazir dan dimanfaatkan pihak lain. Sehingga diperlukan terobosan terobosan yang salah satunya adalah membangun industri perikanan yang dikelola melalui pemberdayaan koperasi nelayan. Peluang bisnis yang bisa diciptakan: Pembelian Hasil Tangkapan Nelayan (Spot & Cash), Armada Semut Penangkapan Ikan, Mendirikan Pabrik Es, Mendirikan Fasilitas Penyimpanan Cold Storage dan Menyiapkan Rumpon Ikan.

Dari latar belakang tersebut, Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal . Tidak bisa di generalisasi walaupun sudah diatur program pembangunan revolusi biru dan minapolitan ini berbasis wilayah seperti yang bisa kita baca di berbagai sosialisasi kementrian kelautan dan perikanan. Ikhtisar program pembangunan fishery industry hanya memerlukan setengah anggaran tetapi dalam perhitungan analisa rugi laba, memberi hasil yang lebih besar dan return yang lebih cepat dari program budidaya rumput laut untuk kabupaten tersebut.

Kenapa demikian? Ikan diperairan tersebut adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Tidak perlu dirawat dan diberi makan. Ikan – ikan bernilai tinggi datang sendiri. Yang diperlukan adalah peningkatan kapasitas kreatif pengelola program revolusi biru dan minapolitan di pusat dan di daerah. Demikian sedikit pengalaman yang mendasari opini saya, kenapa Program Revolusi Biru dan Minapolitan harus paham Karakter Lokal.

Share this article :

Posting Komentar

lazada
 
Support : CBS Consulting | Konsultan Kreatif | Konsultan Kreatif Reviews
Copyright © 2011. Indonesia Minapolitan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger